19 January 2013

Mengurangi Kerja, dan Lebih Hidup


diposting 2 September 2011



Jam kerja yang lebih sedikit menyelamatkan perekonomian, menyelamatkan kewarasan kita, dan membantu menyelamatkan bumi.

Jutaan orang Amerika telah kehilangan kendali atas ritme dasar kehidupan sehari-hari mereka.Merekaterlalu banyak bekerja , makan terlalu cepat, terlalu sedikit bersosialisasi, duduk dan menyetir di kemacetan lalu lintas selama berjam-jam, tidak mendapatkan cukup waktu tidur, dan hampir selalu merasa resah. Ini adalah cara hidup yang merusak sumber dasar dari kekayaan dan kesejahteraan-seperti keluarga yang kuat dan ikatan komunitas , rasa makna yang mendalam, dan kesehatan fisik .

Berpenghasilan lebih rendah, belanja lebih sedikit, dan mengurangi polusi serta limbah. Itulah formulanya. Semakin banyak waktu yang dimiliki seseorang, semakin baik kualitas hidupnya, dan semakin mudah untuk hidup berkelanjutan.

Membayangkan sebuah dunia di mana pekerjaan mengambil jauh lebih sedikit dari waktu kita mungkin tampak utopis, terutama sekarang, ketika mentalitas kelangkaan mendominasi pembicaraan ekonomi. Orang-orang yang bekerja, sering merasa kesulitan untuk mengukur kembali pekerjaan mereka. Biaya perawatan medis, pendidikan, dan perawatan anak meningkat. Mungkin sulit untuk menemukan sumber-sumber pendapatan baru ketika perusahaan-perusahaan di Amerika telah memecat banyak orang dalam waktu singkat.


Tapi jam kerja yang lebih sedikit bagi para pekerja adalah langkah kunci untuk memecahkan krisis pengangguran - sementara di saat yang sama membuat penuduk Amerika hidup lebih sehat. Jam kerja yang lebih sedikit berarti lebih banyak pekerjaan yang tersedia untuk orang-orang yang membutuhkannya. Hidup dengan pendapatan yang lebih kecil, biasanya berarti mengkonsumsi lebih sedikit, memiliki hal-hal yang benar-benar dibutuhkan, dan hidup lebih ringan, baik disengaja, atau karena kebetulan.

Hari ini, baik karena kebutuhan dan pilihan yang disengaja untuk hidup sederhana, orang Amerika lebih banyak yang mengurangi jam kerjanya. Ini adalah tren yang, jika dilakukan dengan benar, bisa membawa kita keluar dari krisis ekonomi saat ini dan menghindari pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Mencari Waktu
Para ekonom saat ini hanya berfokus pada pertumbuhan sebagai mekanisme untuk penciptaan lapangan kerja.Tapi pada abad industri, pengurangan jam kerja kira-kira perannya sama penting dengan pertumbuhan pasar untuk menciptakan pekerjaan.

Jadwal yang melelahkan di abad ke-19 merusak kesehatan dan menghambat orang untuk mencapai apa yang kita sebut 'kualitas hidup'. Jam kerja di Amerika Serikat mulai menurun setelah sekitar tahun 1870-dari sekitar 3.000 per tahun, hingga 2.342 pada tahun 1929. Pada tahun 1973 jam kerja tahunan tercatat sebesar 1.887 (rata-rata kurang dari 40 jam per minggu). Jika jam kerja tidak berkurang, pengangguran akan tumbuh bahkan hingga sebelum Depresi Besar-besaran pada tahun 1930-an.

Sejak 1970-an, orang Amerika telah bekerja lebih panjang. Menurut data survei pemerintah, rata-rata orang bekerja telah bekerja 180 jam lebih banyak pada tahun 2006 dibandingkan dengan pada tahun 1979. Kecenderungan yang lebih jelas terjadi dalam skala rumah tangga. Laki-laki menjadwalkan pekerjaan lebih banyak 50 jam seminggu. (Tiga puluh persen laki-laki lulusan perguruan tinggi dan 20 persennya pekerja penuh waktu dengan jadwal kerja melebihi 50 jam.)

Tidak heran, selama 20 tahun terakhir, sejumlah besar karyawan di Amerika melaporkan telah bekerja terlalu keras. Sebuah studi tahun 2004 menemukan bahwa 44 persen dari responden sering atau sangat sering terlalu banyak bekerja, kewalahan pada pekerjaan mereka, atau tidak mampu berhenti sejenak dan memikirkan apa yang terjadi. Sepertiganya dilaporkan kelebihan bekerja sangat kronis. Para karyawan yang bekerja terlalu keras ini memiliki tingkat stres lebih tinggi, kesehatan fisik buruk, tingkat depresi yang lebih tinggi, dan mengurangi kemampuan untuk mengurus diri sendiri dari rekan-rekan mereka yang kurang mengalami tekanan bekerja.

Memenuhi kebutuhan sendiri, atau self-provisioning, kini meningkat, baik karena pergeseran budaya dan karena sedang berada dalam masa-masa sulit, sehingga orang memiliki lebih banyak waktu dan lebih sedikit uang.

Tapi ada tanda-tanda terbaru bahwa pergeseran budaya ke arah jam kerja yang lebih pendek telah dimulai. Pada tahun 1996, ketika saya pertama kali disurvei pada masalah ini, 19 persen dari populasi orang dewasa dilaporkan telah membuat perubahan gaya hidup secara sukarela selama lima tahun sebelumnya yang menyebabkan mereka mendapatkan sedikit uang. Dalam sebuah survei tahun 2004 oleh Pusat Baru untuk American Dream, 48 persen populasi orang dewasa melakukannya.

Masa ekonomi stagnan yang sulit , adalah kesempatan untuk memperluas norma pekerjaan paruh waktu. Pada tahun pertama dari resesi, banyak perusahaan menghindari PHK dengan mengurangi jam dengan merumahkan karyawan, cuti tidak dibayar, empat hari kerja dalam seminggu, dan waktu kerja fleksibel. Pada pertengahan-2009, sebuah studi pada perusahaan besar menemukan pengurangan jam kerja sebesar 20% untuk mencegah PHK.

Sayangnya, kurangnya dukungan kelembagaan untuk menerapkan kebijakan jam kerja yang lebih pendek, mengembalikan program-program tersebut.  Dean Baker, seorang ekonom, berpendapat dalam sebuah makalah baru-baru ini. Hipotesis Baker adalah bahwa bisnis akan memberikan 1 sampai 2 juta pekerjaan tambahan per tahun jika pekerja bisa memiliki asuransi pengangguran ketika mereka berada di jadwal pendek.

Satu hal yang kita ketahui adalah bahwa orang-orang yang secara sukarela mulai mengurangi jam kerjanya, umumnya merasa senang. Dalam survei New Dream, 23 persen mengatakan mereka tidak hanya bahagia, tapi mereka juga lebih tidak membutuhkan uang. Enam puluh persen dilaporkan menjadi lebih bahagia, tapi membutuhkan uang hingga level tertentu. Hanya 10 persen menyesali perubahan. Saya juga menemukan para 'downshifters' yang berawal dengan kehilangan pekerjaan atau pemotongan gaji atau jam kerja, tetapi akhirnya lebih menikmati waktu yang mereka dapatkan.

Kekayaan yang Kita Ciptakan Sendiri
Berpenghasilan lebih rendah, belanja lebih sedikit, dan mengurangi polusi serta limbah.Itulah formulanya. Semakin banyak waktu yang dimiliki seseorang, semakin baik kualitas hidupnya, dan mudah untuk hidup berkelanjutan. Sebuah studi oleh David Rosnick dan Mark Weisbrot dari Pusat Riset Ekonomi dan Kebijakan memperkirakan bahwa jika Amerika Serikat beralih pada pola kerja negara-negara Eropa Barat, di mana para pekerja menghabiskan rata-rata 255 jam kerja lebih sedikit per tahun, konsumsi energi akan menurun sekitar 20 persen.Penelitian terbaru yang saya lakukan dengan Kyle Knight dan Gene Rosa dari Washington State University, menemukan bahwa semua negara-negara industri selama 50 tahun terakhir, yang memiliki jam kerja lebih pendek, memiliki jejak ekologis dan jejak karbon yang lebih kecil.

Ada juga penelitian kecil yang sedang berkembang, yang meneliti tentang hal tersebut di skala rumah tangga. Sebuah studi di Perancis menemukan bahwa, setelah mengendalikan pendapatan, rumah tangga dengan jam kerja lebih lama meningkatkan pengeluaran mereka pada perumahan (membeli rumah yang lebih besar dengan peralatan lebih), transportasi (jam kerja yang lebih panjang mengurangi penggunaan transportasi umum), dan hotel serta restoran. Sebuah studi di Swedia baru-baru ini menemukan bahwa ketika rumah tangga mengurangi jam kerja mereka sebesar 1 persen, emisi gas rumah kaca mereka turun sebesar 0,8 persen. Salah satu penjelasan adalah bahwa ketika rumah tangga menghabiskan lebih banyak waktu mencari uang, mereka mengkompensasi sebagian dengan membeli lebih banyak barang dan jasa, dan membeli pada tahap akhir dari proses (misalnya, makanan siap saji). Orang yang memiliki lebih banyak waktu di rumah dan mengurangi waktu di tempat kerja, dapat terlibat dalam aktivitas yang lebih lambat, dan lebih sedikit sumber daya. Mereka dapat menggantung pakaian mereka di jemuran, daripada menggunakan pengering listrik. Lebih penting lagi, mereka bisa beralih ke moda transportasi yang lebih tidak intensif dari segi energi, tetapi lebih memakan waktu (mass transit atau carpool vs kendaraan pribai, kereta vs pesawat). Mereka dapat berkebun dan memasak di rumah. Mereka dapat memenuhi lebih dari kebutuhan dasar mereka sendiri dengan membuat, memperbaiki, melakukan, dan menyediakan berbagai hal sendiri.

Melakukan sesuatu sendiri (doing it yourself), atau self-provisioning, kini meningkat, baik karena pergeseran budaya dan karena dalam masa-masa sulit orang memiliki lebih banyak waktu dan sedikit uang.

Pada bulan April 2009, menurut survei nasional, satu dari lima orang Amerika mengatakan mereka sedang membuat rencana untuk berkebun tahun itu. Setelah resesi terjadi, berorientasi layanan bisnis yang berorientasi pada jasa seperti salon, perawatan hewan peliharaan, dan pengasuh anak, mengalami penurunan bisnis karena orang-orang mulai melakukan hal-hal itu sendiri. Sebuah pameran tahunan di California yang disebut Maker Faire, telah menarik do-it-yourself-ers dan penemu yang jumlahnya semakin meningkat. Ini menyebar ke berbagai lokasi baru di seluruh negeri, dengan jumlah pengunjung yang dilaporkan meningkat empat kali lipat sejak tahun 2006.

Orang-orang kembali pada seni yang hilang yang dilakukan oleh generasi sebelumnya - membuat bir, pembuatan perabot kayu, menenun, pengalengan dan pengawetan makanan. Mereka juga mulai berburu, memancing, dan menjahit. Orang-orang melakukan kegiatan ini karena mereka menikmatinya dan menghasilkan produk berkualitas atau produk yang tidak banyak tersedia. Mereka membuat jelly, saus, dan daging asap, atau sweater buatan tangan, selimut, dan pakaian sehingga barang-barang mahal tersebut jadi lebih terjangkau.

Memenuhi kebutuhan sendiri, juga semakin populer di bidang perumahan. Misalnya, gerakan pembuatan rumah dari balok jerami telah sangat populer di daerah Barat Daya. Konstruksi balok jerami telah menjadi cukup lazim hingga beberapa daerah telah memberikan ijin, dan bahkan ada bank yang memberikan pinjaman untuk pembuatan rumah dari balok jerami ini. Orang-orang juga bereksperimen dengan menggunakan batu bata yang terbuat dari tanah yang di press, dinding dari tanah, "papercrete" (kertas daur ulang yang dicampur dengan sedikit beton), dan berbagai bahan lainnya. Masyarakat New England menghidupkan kembali tradisi era-kolonial dengan membangun gudang komunitas, sekarang mereka bersama-sama membangun Yurt.

Karena penjualan perumahan mengalami kegagalan dan stagnasi  di seluruh, mungkin akan lebih banyak pengungsi real estate yang membangun hunian mereka sendiri yang bebas utang dengan bahan daur ulang, berbiaya rendah, atau bahkan tanpa biaya-.

Pemenuhan kebutuhan sendiri juga memacu kewirausahaan. Kebanyakan orang yang mempraktekkan hal tersebut tidak memproduksi segalanya sendiri. Mereka menemukan beberapa kegiatan produktif yang mereka sukai, lebih dikuasai, atau dapat lakukan dengan lebih mudah. Mereka menjual yang terbaik yang bisa mereka hasilkan. Dengan spesialisasi ini, pemenuhan kebutuhan sendiri menjadi jalur untuk menumbuhkan satu set usaha kecil yang akan berkembang seiring dengan munculnya ekonomi berkelanjutan.

Sebuah perubahan skala besar untuk mengurangi pekerjaan dan lebih memproduksi serta pemenuhan kebutuhan sendiri di rumah akan memerlukan solusi-solusi kolektif. Kita membutuhkan sistem yang dapat menyediakan keamanan dasar bagi semua individu dan keluarga - sejak usia anak-anak sampai usia tua. Akses pada kebutuhan dasar seperti pendidikan dan kesehatan harus dapat terjangkau oleh semua orang.

Tapi sekarang memungkinkan bagi banyak orang untuk mengambil langkah-langkah kecil untuk mengurangi jam kerja dan memenuhi kebutuhan sendiri (swasembada). Pastinya ada tantangan, tapi bagi sebagian besar orang, beralih bekerja formal menjadi berkebun telah dapat diterima. Mereka yang memenuhi kebutuhan sendiri sangat puas dengan keterampilan baru yang dimiliknya dan mencari kesempatan untuk menjadi kreatif, serta mendapatkan kepuasan dan keamanan dari gaya hidup mandiri yang dibangunnya. Kemampuan untuk bekerja untuk diri sendiri, sangat dihargai. Mereka lebih terawat saat berhubungan dengan tanah. Mungkin yang paling penting juga, mereka mendapatkan manfaat dengan berkesempatan untuk hidup, tanpa membahayakan orang lain dan bumi.

* * *

artikel asli dimuat di Yes! edisi Musim Gugur 2011

No comments: